Perempuan dan Tradisi Solana

0
145


Haenah, Nuriani, Masria dan Putiana. Empat perempuan parubaya memilih menyepi ke sebuah lembah di bawah bukit Nangananga. Keempatnya berasal dari perkampungan miskin di pinggiran kota, sekitar sepuluh kilometer dari teluk Kendari.


Setiap pagi, sekitar pukul 07.00, saat fajar baru saja merekah, mereka meninggalkan rumah, memboyong anak-anak mereka ke lembah yang panas itu. Di sana Mereka mendirikan lapak-lapak kecil tempat bekerja, tepat di sisi pohon bambu yang rimbun..

Haenah tertua diantara keempatnya. Tangannya mengibas kayu arang diperapian, membuat asap menebar ke mana-mana. Sesekali, janda lima anak itu mengucek-ngucek matanya yang berair akibat terkena asap. Nuriani, Masria dan Putiana yang sibuk memecah potongan-potongan bambu, menertawakannya. Sebenarnya mereka tidak hanya berempat. Hari itu dua rekannya– yang juga perempuan– tidak hadir karena sakit. Kepada Haenah keduanya meminta ijin berobat ke puskesmas.

Siang itu Haenah mendapat giliran menanak nasi, tugas tambahan diluar tugas pokok menganyam bilah bambu. Sebuah lakon monoton yang sudah hampir dua puluh tahun dijalani bersama. Pertemuan mereka bukanlah suatu yang kebetulan. Tepatnya dua puluh tahun silam. Haenah dan kawan-kawan yang tak memiliki pekerjaan tetap. Himpitan kemiskinan memaksa mereka hidup berkelompok, bekerja sebagai pembuat anyaman bambu atau yang mereka sebut kerajinan Solana.

Akhir pekan lalu, Saya berkesempatan menemui mereka. Mendapati perempuan-perempuan desa itu tengah menyelesaikan beberapa buah Solana, sebuah tradisi peninggalan masyarakat etnis tolaki di masa silam. Solana yang berarti dinding berbahan baku bambu yang digunakan untuk dinding rumah. Haenah dan kawan-kawan memanfaatkan sumber daya hutan seperti bambu yang banyak terdapat di hutan-hutan di pinggiran desa mereka untuk membuat anyaman.

BACA :  Kota Kendari Raih Adipura Kencana tahun 2015

Sebelum masyarakat mengenal dinding batu, masyarakat local khususnya etnis tolaki masih banyak menggunakan kerajinan solana untuk dinding rumah mereka. Di masa sekarang, penggunaan Solana bahkan masih ditemukan di beberapa rumah-rumah penduduk miskin pedesaan, di pinggiran kota. Kini, solana banyak dipesan oleh para pemilik bangsal kayu dan bangsal kerajinan batu merah. Belakangan, para pengusaha sapi juga banyak memesan Solana, untuk kebutuhan alas lantai kapal untuk mengangkut pengiriman sapi antar pulau.

Seiring moderinisasi, pekerjaan kerajinan solana memang kian langka di Kendari. Kini kerajinan masyarakat etnis tolaki ini hanya berada di daerah-daerah terpencil. Salah satunya di desa Naganaga, Kecamatan Poasia. Selain ibu-ibu rumah tangga pengrajin solana juga dikerjakan kaum pria yang telah berusia lanjut. Haenah dan kelompoknya ambil bagian tetap melestarikan tradisi solana.

Kepada saya, Haenah dengan senang hati memperlihatkan cara pembuatan solana. Tehnik pembuatannya tergolong sederhana. Bambu berdimeter kecil dipotong sepanjang satu meter enam puluh centimeter, tak lupa bulu bambu yang gatal dibersihkan, lalu di pecah-pecah dengan menggunakan potongan kayu balok. Setelahnya bambu dibelah dengan paku yang ditancap di kayu. Belahan bambu ini kemudian dibuat pola dan dianyam sesuai kebutuhan. Meski terlihat sederhana, tapi Solana tetap memiliki nilai seni. Solana buatan Haenah memiliki ciri anyaman saling silang antara bambu bagian dalam dan bambu bagian luar. Melihat dari kejauhan sepintas mirip batik.

BACA :  Sultra Demo Bakal Gelar Diskusi Publik "Pilkada Damai"

Butuh kehati-hatian saat menganyam Solana, sebab bambu yang terbilang tajam bisa melukai tangan si pembuatnya. Haenah sempat memperlihatkan tanganya yang penuh bekas luka akibat tersayat sembilu. Mengantispasinya Haenah memilih menggunakan kaos tangan, yang dibelinya di pasar.

Menurut Haenah, tehnik pembuatan Solana tak jauh beda dengan pembuatan Salabi yang juga menggunakan bahan baku bambu. Hanya saja dari segi ukuran, salabi jauh lebih kecil. Dahulu salabi dibuat untuk penjemuran tembakau.

Sehari, para pekerja hanya mampu membuat dua sampai lima lembar solana dan dijual pada seseorang yang telah memesan khusus. Harga solana dijual hanya dua belas ribu rupiah per lembar. Sebuah harga yang tak seberapa besar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Pernah, beberapa kali, mereka berharap ada bantuan usaha kecil dari pemerintah, namun mereka tak pernah mendapatkannya. Jangankan bantuan modal, bimbingan pelatihan tak mereka rasakan. Kurangnya sosialisasi serta keterbatas akses informasi bantuan usaha menjadi problem, memaksa mereka mencari sendiri pembeli solana ke kota. Untunglah beberapa pengumpul Solana berbaik hati membeli hasl kerajianan mereka.

Akibat tidak adanya bantuan, para pengrajin Solana, umumnya, terikat utang, setelah mengambil uang panjar kepada para pemesan Solana. Pinjaman diambil untuk menutupi kebutuhan hidup, seperti; biaya makan, pendidikan anak dan biaya perawatan kesehatan. Haenah mengaku memiliki kartu jaminan kesehatan masyarakat, tapi itu tidak cukup untuk bisa membebaskan mereka dari praktik hutang piutang. Seperti yang dialami dua rekan Haenah hari itu terpaksa berutang demi menebus obat. (Yos Hasrul)