Menikmati Sepotong Surga di Desa Wisata Namu

0
1171

Pantai Namu di Desa Wisata Namu dengan panorama alam yang eksotik. Dokumen foto milik: RURUHI PROJECT

SULTRANEWS-Tuhan melempar sepotong surga di Namu. Ungkapan
itu terlontar dari bibir Yasrin Fior Polingai, penggiat wisata Ruruhi Project,
organisasi berbasis komunitas wisata Sulawesi Tenggara. Pria yang aktif dalam
perkumpulan agensi wisata local ini seolah menemukan kilau wisata  di desa berpenduduk 112 kepala keluarga
tersebut. “Tinggal dipoles maka Namu akan jadi destinasi baru di Sulawesi
Tenggara,”ujarnya.

Namu, desa pesisir yang eksotik dengan ragam keindahan
alamnya. Letaknya di pesisir, meupakan wilayah administrasi Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan. Pantainya indah dengan hamparan pasir putih. Bawah lautnya pun masih
perawan, dengan keindahan terumbu karangnya sehingga cocok menjadi lokasi spot
penyelaman, snorkeling maupun diving.

Pantai Namu dengan pasir putih yang menawan menjadi daya tarik wisata alam yang eksotik di Desa Wisata Namu. Dokumen foto milik: RURUHI PROJECT

Di sisi Utara desa terdapat danau biru yang airnya
bersumber dari air pegunungan Namu. Danau kecil ini sehari-hari menjadi lokasi permandian anank-anak desa. Masih soal sumber air, sekitar 1 kilometer
tepatnya di punggung bukit desa terdapat lokasi wisata air terjun setinggi 10
meter, mirip air terjun Moramo yang berundag-undag. Airnya tidak pernah kering
meski di musim kemarau. Hutan alam nan lebat yang masih terjaga kelestariannya
dipercaya menjadi penjaga ketersediaan air di wilayah Namu.

Air jatuh Pitundengga salah satu dari banyak obyek wisata di Desa Namu. Dokumentasi Foto milik: RURUHI PROJECT

Kelestarian hutan Namu ini membawa berkah pada
kehidupan flora dan pauna di kawasan hutan Namu. Terbukti, aneka satwa
dilindungi masih sering dijumpai di kawasan ini, seperti binatang jenis rusa,
anoa,kera hitam Sulawesi, rangkong rimba, elang Sulawesi hingga babi hutan.
Begitu juga aneka flora endemik yang tumbuh subur di hutan Namu, diantaranya
anggrek macan (tiger) corak kuning yang sangat langka. Dalam kamus bunga
Indonesia, Anggrek macan merupakan flora dilindungi.

 “Honolulu” Made In Indonesia 

Mungkin tidak berlebihan jika menyandingkan Desa
wisata Namu dengan pusat pariwisata dunia Honolulu di Swiss. Setidaknya,
persamaan itu terletak pada lengkungan garis pantai yang cukup tajam, pasir putih
yang melebar ke laut, serta pantainya ditumbuhi deretan pohon nyiur melambai.
Dari lokasi ketinggian kecantikan pantai dan laut Namu akan semakin nampak saat
pagi hari dan saat menjelang sore karena pasir yang bersih berkilau tersiram
cahaya. Air laut yang biru bening membuat pengunjung dapat menyaksikan dasar
laut yang menawan. Di sisi Selatan desa terdapat hamparan pasir putih yang
menjorok hingga ke laut. Saat air surut, pasir putih ini menjadi hamparan
seluas lapangan sepak bola dan kerap digunakan sebagai lokasi olah raga voly
pantai dan bermain bola warga setempat. Dan saat air pasang, pasir putih
tenggelam bersama air laut dan cukup cocok sebagai lokasi snorkling.

BACA :  Kapolda Sultra Kunjungi Kantor AJI Kendari
Salah satu sudut di Obyek Wisata Desa Namu yang benar-benar eksotik. Dokumentasi Foto milik: RURUHI PROJECT

Dalam dunia pariwisata, keindahan alam, ragam
budaya dan ketersediaan infrastruktur bukan jaminan orang hadir di sebuah
lokasi wisata. Namun lebih dari itu, keramahan dari warga tempat wisata berada
merupakan kunci dari segalanya. Modal itu dimiliki Desa Namu, sebab, warga desa
bersama pemerintah desa telah bersepakat untuk memajukan desa wisata namu
dengan dengan mengedepankan sikap ramah dan kesantunan budaya mereka. Modal itu
telah dimiliki warga desa karena keramahan mereka pada pengunjung membuat
banyak wisatawan jatuh cinta pada pariwisata di Namu.

Anda mungkin tak menemukan keramahan warga
pesisir di tempat lain selain di Desa Namu. Karakter masyarakat yang welcome
pada siapapun yang hadir. Ini tak lepas dari budaya etnik yang mendiami kawasan
Namu yang terkenal penuh dengan toleransi pada sesama. Etnik Tolaki menjadi
etnik mayoritas yang mendiami Desa Namu. Mereka hidup dalam budaya yang
menjunjung tinggi nilai-nilai adat istiadat dan berpandangan “Inae kosara Ie
pinesara, inae kasara ie nipekasara” yang artinya “Barang siapa yang menjunjung
adat ia dihormati, dan siapa yang melanggar adat maka Ia akan mendapat hukuman”.

BACA :  Kubangan Raksasa di Konawe Utara

 Keramahan
warga dapat kita saksikan cara mereka menyambut pengunjung yang hadir di Namu.
Warga, baik pria maupun wanita, orang tua hingga kanak-kanak selalu akan
menebar senyum dan menyapa dengan lemah lembut. Beberapa pengunjung terkesan
dengan keramahan warga, mereka berbagi cerita atau pengalaman menginap di Namu.
“Saat malam hari, kami duduk di pinggir pantai, beberapa warga melewati lokasi
kami duduk, mereka menyapa kami dengan ramah dan saat meleewati jalan mereka
benar-benar meminta permisi kepada kami,”kata Anas, wisatawan asal Kendari.
Menurut Anas, apa yang dilakukan warga tidak pernah Ia temukan di tempat lain.

Ini Rute
ke Namu

Dermaga rakyat yang menjadi pintu masuk ke area wisata pantai Namu. Dokumentasi Foto milik: RURUHI PROJECT

Menjangkau Desa wisata Namu faktanya tidaklah
sulit. Dari kendari kita dapat melalui jalur darat dengan menggunakan kendaraan
roda dua maupun roda empat dengan rute Kacamatan Moramo – Kolono sampai Desa
Langgapulu –Amolengu dengan jarak tempuh kurang lebih 1 jam, lalu menuju
dermaga rakyat Desa Langgapulu untuk menyewa kapal nelayan untuk antar ke Desa
Namu. Hal ini dilakukan karena belum adanya jalur darat menujuNamu. Jarak
tempuh dari Dermaga Langgapulu ke Desa Namu sendiri sekitar 30 menit perjalalan
laut. Rute lain yang dapat digunakan yakni ke arah kota lama Kendari ke Dermaga
rakyat tempat kapal-kapal Laonti sandar. Dari sana kita akan menggunakan kapal
nelayan yang cukup banyak disewakan. Dana yang digunakan untuk berlibur ke Desa
Wisata Namu tidak seberapa besar, yakni berkisar 500.000 – 1 juta rupiah per
orang. 

Sebagai Desa wisata, sejumlah fasilitas telah
tersedia di Desa Namu yakni berupa cottage berupa rumah penduduk yang banyak
disewakan warga. Fasilitas MCK juga rata-rata sudah dipersiapkan dengan baik,
termasuk ketersediaan air tawar yang cukup melimpah di desa. Beberapa warga
juga telah dilatih khusus untuk menjadi guide yang dapat mengantar pengunjung
ke lokasi-lokasi wisata alam Namu. Selamat berlibur. (YOSHASRUL/RURUHI PROJECT)