Mengapa Harus Kartini?

0
129
Cut Nyak Dien figur perempuan pejuang Indonesia yang dibenci oleh penjajah Belanda, sedangkan R.A. Kartini yang dikultuskan sebagai pahlawan nasional adalah figur yang dicintai penjajah Belanda, kini berbagai pihak mulai mempertanyakan peringatan Hari Kartini.

Oleh: Tiar Anwar Bachtiar *

Mengapa setiap 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini?
Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan
diteladani dibandingkan Kartini?

Pada dekade 1980-an, guru besar Universitas
Indonesia, Prof. Dr. Harsya W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini.
Ia mengkritik pengkultusan R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional
Indonesia. Tahun 1988, masalah ini kembali menghangat, menjelang
peringatan hari Kartini 21 April 1988. Ketika itu akan diterbitkan buku
Surat-Surat Kartini oleh F.G.P. Jacquet melalui penerbitan Koninklijk
Institut voor Tall-Landen Volkenkunde (KITLV).

Tulisan ini
bukan untuk menggugat pribadi Kartini. Banyak nilai positif yang bisa
kita ambil dari kehidupan seorang Kartini. Tapi, kita bicara tentang
Indonesia, sebuah negara yang majemuk. Maka, sangatlah penting untuk
mengajak kita berpikir tentang sejarah Indonesia. Sejarah sangatlah
penting. Jangan sekali-kali melupakan sejarah, kata Bung Karno. Al-Quran
banyak mengungkapkan betapa pentingnya sejarah, demi menatap dan menata
masa depan.

Banyak pertanyaan yang bisa diajukan untuk sejarah
Indonesia. Mengapa harus Boedi Oetomo, Mengapa bukan Sarekat Islam?
Bukankah Sarekat Islam adalah organisasi nasional pertama? Mengapa harus
Ki Hajar Dewantoro, Mengapa bukan KH Ahmad Dahlan, untuk menyebut tokoh
pendidikan? Mengapa harus dilestarikan ungkapan ing ngarso sung tulodo,
ing madyo mangun karso, tut wuri handayani sebagai jargon pendidikan
nasional Indonesia? Bukankah katanya, kita berbahasa satu: Bahasa
Indonesia? Tanyalah kepada semua guru dari Sabang sampai Merauke. Berapa
orang yang paham makna slogan pendidikan nasional itu? Mengapa tidak
diganti, misalnya, dengan ungkapan Iman, Ilmu, dan amal, sehingga semua
orang Indonesia paham maknanya.

Kini, kita juga bisa bertanya,
Mengapa harus Kartini? Ada baiknya, kita lihat sekilas asal-muasalnya.
Kepopuleran Kartini tidak terlepas dari buku yang memuat surat-surat
Kartini kepada sahabat-sahabat Eropanya, Door Duisternis tot Licht, yang
oleh Armijn Pane diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang.
Buku ini diterbitkan semasa era Politik Etis oleh Menteri Pengajaran,
Ibadah, dan Kerajinan Hindia Belanda Mr. J.H. Abendanon tahun 1911. Buku
ini dianggap sebagai grand idea yang layak menempatkan Kartini sebagai
orang yang sangat berpikiran maju pada zamannya. Kata mereka, saat itu,
tidak ada wanita yang berpikiran sekritis dan semaju itu.

BACA :  Lambungaso tak hanya hutan

Beberapa sejarawan sudah mengajukan bukti bahwa klaim semacam itu tidak
tepat. Ada banyak wanita yang hidup sezamannya juga berpikiran sangat
maju. Sebut saja Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang
(terakhir pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang
tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang
dilakukan Kartini. Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana
tentang pendidikan kaum wanita.

Ia bahkan berhasil mendirikan
sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang
berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus
(1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain
mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (1911) dan Rohana School (1916),
Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat
ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di
negeri ini.

Kalau Kartini hanya menyampaikan Sartika dan Rohana
dalam surat, mereka sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide
dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang ber
inisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara
langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari
Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio
(padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).

Kalau saja ada yang
sempat menerbitkan pikiranpikiran Rohana dalam berbagai surat kabar itu,
apa yang dipikirkan Rohana jauh lebih hebat dari yang dipikirkan
Kartini. Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah,
Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fa -timah dari
Aceh, klaim-klaim ke terbe lakang an kaum wanita di negeri pada masa
Kartini hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita
hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan
Belanda. Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang
ulama-wanita.

BACA :  Akun SBY Twit Foto Adelana

Di Aceh kisah wanita ikut berperang atau menjadi
pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari
sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia,
Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama,
yakni Malahayati. Aceh juga pernah dipimpin oleh Sultanah (sultan
wanita) selama empat periode (1641-1699). Posisi sulthanah dan panglima
jelas bukan posisi rendahan.

Jadi, ada baiknya bangsa Indonesia
bisa berpikir lebih jernih: Mengapa Kartini? Mengapa bukan Rohana
Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa Abendanon memilih Kartini?
Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu? Cut
Nyak Dien tidak pernah mau tunduk kepada Belanda. Ia tidak pernah
menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini.

Meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, Rohana Kudus juga
memiliki visi keislaman yang tegas. Perputaran zaman tidak akan pernah
membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala
kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus menda
-pat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat
jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah
yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan,
begitu kata Rohana Kudus.

Bayangkan, jika sejak dulu anak-anak
kita bernyanyi: Ibu kita Cut Nyak Dien. Putri sejati. Putri
Indonesia…, mungkin tidak pernah muncul masalah Gerakan Aceh Merdeka.
Tapi, kita bukan meratapi sejarah, Ini takdir. Hanya, kita diwajibkan
berjuang untuk menyongsong tak dir yang lebih baik di masa depan. Dan
itu bisa dimulai dengan bertanya, secara serius: Mengapa Harus Kartini?

*Penulis adalah aktivis INSISTS