Komoditi Rumput Laut Jadi Primadona Nelayan Konsel

0
182

 

SULTRANEWS- Air laut mulai surut,  saat  matahari tepat di tengah ubun-ubun. Dua lelaki sibuk mendayung perahu sarat muatan, berusaha menjaga keseimbangan kapal menuju dermaga kecil di ujung desa. Setelah posisi perahu benar-benar aman barulah  mereka membongkar muatan, menurunkan hasil panen rumput laut yang masih segar dan berwarna keemasan itu. Para nelayan baru saja mengangkut hasil panen sekitar satu mil dari desa mereka.

“Sejak boomingnya rumput laut, masyarakat sini semua langsung menanam rumput laut, yang tadinya tidak punya kerja, asal mau berusaha, semuanya bisa tanam rumput laut,”kata Basri nelayan di Desa Torobulu, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan. Kata-kata yang begitu menggambarkan betapa antusiasnya masyarakat di desanya untuk menjadi lebih produktif melalui budidaya rumput laut.

“Anak-anak muda di sini yang tadinya kebanyakan nganggur, sekarang banyak yang sudah mampu beli motor sendiri, mereka tinggal datang ke pengumpul minta tali sama bibit, terus tanam rumput laut. Tunggu 45 hari, panen, dapat uang”, lanjutnya.

Lain lagi dengan kisah dari seorang pembudidaya rumput laut di  Desa Bororo, Kecamatan Moramo. Kisah dimana rumput laut yang menjadi tumpuan ekonomi utama di desanya, sumber penghasilan utama yang mampu menarik minat dari tenaga kerja bidang lain untuk berbudidaya rumput laut. “Banyak orang dari gunung yang turun ke pantai untuk berbudidaya rumput laut sembari mereka bercocok tanam di gunung” kata Haji Udin, Ketua Kelompok nelayan di Bororo. Ia seolah meneguhkan betapa besarnya pengaruh rumput laut dalam kehidupan masyarakat di desanya.

BACA :  Jerigen Bensin Meledak Hanguskan Mobil dan Tiga Rumah di Kolaka

“Dulu, sebelum ada rumput laut, masyarakat pesisir hanya terpaku pada kegiatan menangkap ikan, budidaya ikan pun hanya terbatas karena hanya terpaku pada tambak-tambak yang dimiliki oleh pemilik lahan. Sekarang tanpa tambak pun masyarakat bisa langsung berbudidaya dengan rumput laut” ujarnya sambil menunjuk lokasi budidaya rumput laut miliknya yang berada di ujung desa.

Arnanto, Kabid Buduidaya Dinas Kelautan dan Perikanan Konawe Selatan menjelaskan, budidaya rumput laut memang tengah dominan di sebagian besar desa pesisir di Konawe Selatan kini. Hal ini tak lepas dari pembinaan yang dilakukan pemerintah kepada petani rumput laut.

Dominasi komoditi rumput laut akan terlihat saat memasuki desa pesisir, maka akan langsung tampak tumpah ruahnya masyarakat yang sedang menjemur rumput laut di pekarangan rumah, bahkan sampai ke bahu-bahu jalan. Begitu pula bila kita sampai di pinggir pantai desa tersebut, maka akan terlihat hamparan luas lahan rumput laut yang terbentang tak tampak ujung

Namun bukan berarti petani tidak menghadapi kendala, terutama serangan penyakit  ice-ice yakni penyakit yang kerap menyerang tanaman  rumput laut. “Untuk itu kami selalu mengingatkan pemilik budidaya rumput laut untuk memperhatikan pola tanam serta memperhiutungkan cuaca. Intensitas cuaca sangat mempengaruhi kualitas air laut,”kata Arnanto.

BACA :  Carut Marut Tambang Sultra dalam Catatan Jurnalis Lingkungan (Bagian 3)

Rumput laut di beberapa tahun terakhir menjadi sumber pendapatan primadona di wilayah pesisir Sulawesi Tenggara (Sultra). Menurut Laporan Tahunan Data statistik Perikanan 2011 DKP Provinsi Sulawesi Tenggara, produksi rumput laut Sultra mengalami peningkatan produksi yang sangat besar. Produksi rumput laut di tahun 2009 sebesar 185 ribu Ton dan melonjak di tahun 2010 sebesar 518 ribu Ton Lonjakan produksi rumput laut yang besar menjadi tanda bahwa bagaimana masyarakat pesisir sangat antusias berbudidaya rumput laut. Roda ekonomi pedesaan dapat berkembang dan terus berputar dengan membudidayakan rumput laut.

Hal ini sangat sejalan dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang menargetkan produksi rumput laut nasional tahun 2012 sebesar 5,1 juta ton. “Indonesia bisa menggusur Filipina sebagai negara penghasil rumput laut terbesar di dunia pada tahun ini, dengan jumlah produksi mencapai 5 juta ton per tahun,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C. Sutardjo, dalam press release nya di website KKP. ***