Festival Teluk Kolono 2017 Digelar

0
225
Suasana Pembukaan Festival Teluk Kolono di Desa Lambangi, Kecamatan Kolono Timur. foto: DKP KONSEL

SULTRANEWS-Teluk Kolono merupakan salah satu teluk yang terletak di Kabupaten Konawe Selatan yang mempunyai potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang melimpah. Teluk ini merupakan wilayah administrasi yang meliputi 2 kecamatan, yaitu Kecamatan Kolono dan Kolono Timur. Namun pemanfaatan Teluk Kolono oleh masyarakat sekitar belum optimal sebagai salah satu sumberdaya yang menjadi sumber pendapatan masyarakat setempat.

Hal ini disebabkan sumberdaya laut dan perikanan yang makin sedikit ketersediannya sebagai akibat banyaknya aktifitas penangkapan yang tidak diatur dengan baik. Di samping itu, masih ada alat tangkap yang mempunyai kapasitas dan mesin yang besar (modern) yang beroperasi menangkap di perairan teluk kolono tanpa mempertimbangkan kapasitas dan potensi sumber daya yang ada dan mengambil ikan di wilayah tangkapan nelayan kecil. Program Pengelolaan Akses Area Perikanan (PAAP) juga di sebut Daerah Penangkapan Tradisional (DPT) di teluk kolono yang digagas dan diimplemantasikan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Konawe Selatan atas dukungan Rare-Indonesia, sebuah lembaga non-profit internasional yang bergerak dalam fasilitasi pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan.

Adapun upaya yang dilakukan selama ini untuk mengajak masyarakat berpartisipasi dalam program adalah melalui pendekatan ke masyarakat dengan sosialisasi dan diskusi, pengunaan metode sosial marketing seperti spanduk, baliho, baju, kuis jalanan, kunjungan sekolah, menciptakan lagu dan video pendek tentang program DPT, serta menyelenggarakan  Festival Teluk Kolono.

Lomba vocal group di Festival Teluk Kolono. foto: DKP KONSEL
Lomba renang di laut diikuti warga nelayan berlokasi di Teluk Kolono. foto: DKP KONSEL

Tahun ini Festival Teluk Kolono mengambil tema “Mewujudkan Daerah Penangkapan Tradisional (Dpt) Sebagai Lumbung Ikan Di Teluk Kolono” tanggal 17 – 18 Mei 2017 (Selama 2 hari) . dimana dalam proses kegiatan dilaksanakan oleh Kelompok Forum Peduli Laut Teluk Kolono yang telah di bentuk berdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan nomor AHU – 0004635.AH.01.07. tahun 2017 dan berkoordinasi dengan pihak pemerintah Kecamatan Kolono Timur.

BACA :  Pemkot Kendari Sidak Pasar

Adapun Jenis-jenis lomba yang di perlombakan meliputi lomba renang, lomba mancing, lomba masakan serba ikan, lomba makan kerupuk, lomba menyusun kata, dan lomba vocal grup. Tujuan pelaksanaan festival ini untuk mempromosikan  potensi perikanan di Teluk Kolono kepada masyarakat yang lebih luas,  mengajak masyarakat agar lebih peduli dengan lautnya. “Harapannya festival ini bisa lebih meningkatkan antusias masyarakat dalam mendukung Program PAAP/DPT agar bisa tetap berkelanjutan sehingga ikan dapat terus dinikmati hari ini, hari esok dan hari yang akan datang,”ungkap Mabrur, Ketua Panitia Pelaksana Festival Teluk Kolono, Forum Peduli Laut Teluk Kolono.

Sekertaris Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Konawe Selatan, Hadjar Gunawan, SE, mengharapkan agar dengan adanya program PAAP, nelayan Teluk Kolono bisa mengatur dan menentukan  wilayah penangkapan mereka sendiri. “Kedepannya, kami optimis bahwa PAAP/DPT dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan nelayan sekitar Teluk Kolono,”katanya.

Lomba masakan serba ikan di festival teluk koloni: DKP Konsel
Lomba menyusun kata diikuti warga. foto:m DKP Konsel

Dalam acara Festival Teluk Kolono di Kecamatan Kolono Timur Kabupaten Konawe Selatan, Direktur Kebijakan Rare-Indonesia, Dr. Arwandrija Rukma menekankan, bahwa, PAAP merupakan sebuah solusi yang ditawarkan Rare-Indonesia terhadap kenyataan semakin menipisnya stok ikan dan penurunan kualitas ekosistem laut.

“Melalui PAAP, nelayan kecil mendapatkan kepercayaan dan kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya dalam mengelola suatu kawasan laut tertentu yang terdiri dari zona pemulihan stok ikan dan zona pemanfaatan secara terencana, terukur dan bertanggung jawab. Dalam program tersebut, nelayan menjadi penjaga dan pengawas sehari-hari zona pemulihan stok ikan dan limpahan ikan dari zona tersebut diatur pemanfaatannya agar upaya penangkapan ikan menjadi lebih efisien dan menghasilkan volume dan kualitas tangkapan yang memuaskan,”ujar Arwandrija Rukma.

Lomba mancing ikan di Teluk Kolono: foto: DKP Konsel

Bagi Rare-Indonesia, esensi keberhasilan program adalah ketika nelayan kecil mampu mengidentifikasi sumber masalah yang menghambat kesejahteraan mereka, mengorganisir diri, dan memecahkan masalah bersama.

BACA :  Kerugian Besar Akibat Banjir di Sultra

Profil Teluk Kolono

Seperti diketahui, Teluk Kolono merupakan salah satu perairan teluk yang terletak di Kabupaten Konawe Selatan dimana berada pada wilayah administratif Kecamatan Kolono dan Kolono Timur  yang mempunyai panjang garis pantai ± 54 KM. Saat ini pemanfaatannya sebagai tempat mencari ikan bagi nelayan setempat dan budidaya perairan. Kegiatan ini telah lama mereka lakukan dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Perairan ini merupakan salah satu daerah yang memiliki daerah perlindungan laut/kawasan larang ambil yang merupakan daerah tabungan ikan yang telah dibentuk oleh masyarakat Kolono Timur  atas inisiasi kerjasama Dinas Kelautan dan Perikanan kabupaten Konawe Selatan dan Lembaga Internasional Rare, dimana Luas Daerah Perlindungan lautnya 50 Ha terletak di Desa Tumbu – tumbu jaya seluas 20 Ha dan Desa Ngapawali seluas 30 Ha.

Penutupan sekaligus penyerahan hadiah. foto: DKP Konsel

Kawasan yang akan menjadi Fokus Kampanye Pride-PAAP atau lebih dikenal Daerah Penangkapan Tradisional  (DPT) di teluk Kolono terdiri dari lima desa pesisir di Kecamatan Kolono Timur antara lain : Desa Lambangi, desa Tumbu-Tumbu Jaya, desa Ngapawali, desa Batu Putih dan Desa Rumba-Rumba yang didiami oleh masyarakat yang heterogen, diantara Suku Tolaki, Suku Bugis, Suku Muna, Suku Bajo.

Ukuran Luas Kawasan Perairan Fokus Kerja  ± 12.510 Ha dengan luas wilayah perairan calon PAAP atau Daerah Penangkapan Tradisional (DPT)  ± 974,67  Ha (akan ditetapkan berdasarkan kesepakatan bersama tentunya)dan luas kawasan daratan ± 10.554  Ha.Kawasan kerja dapat ditempuh dengan jalur darat, jarak dari bandara Haluoleo ke lokasi ± 80 km dengan lama perjalanan sekitar 2 – 3 jam. (SK)