Doti, Stigma Negatif Pulau Wawonii

0
938
Ilustrasi

SULTRANEWS-,Rasa cemas sempat  terbersit di hati Zain. Terlebih setelah  petugas polisi itu  mendengar cerita warga tentang kesaktian Labora
yang terkenal kebal dan konon memiliki peliharaan 40 kuntil anak. Sejumlah
warga Lampeapi, di sebelah Selatan Wawonii, bahkan mengaku sudah membuktikan dengan melihat langsung wujud kuntil anak peliharaan Labora yang kerap
terlihat dan menganggu warga sekitar. 
 

Namun perasaan takut itu dibuang Zain jauh-jauh. Ia tetap memutuskan
mencari Labora dan menantangnya berduel. 
Zain lalu menyusuri jalan setapak berbukit berkilo-kilo meter demi mencari Labora.
Sepucuk senapan dipanggulnya erat-erat. Pikirannya terus berkecamuk, ingin
segera  sampai di rumah Labora, pemuda
desa Lampeapi yang terkenal sakti mandraguna.

Saat tiba, tanpa
basa-basi Zain langsung berteriak memanggil Labora dan menantangnya duel. “Labora
keluar kau !! kalo memang kamu jago kamu lawan saya sekarang,”teriak Zain.  Mendengar tantangan itu, Labora keluar rumah
menemui Zain. Ia hanya terdiam tanpa berani menatap wajah Zain yang sudah
memerah.

“Labora, Saya
dengar Kamu punya ilmu dan punya peliharaan empat puluh kuntil anak, kalo kamu
jago kamu lawan saya sekarang kalau terjadi apa-apa sepulangnya saya dari sini,
maka saya akan kembali mencari Kamu dan akan saya tembak mulutmu,”ancam sembari
menodong senjata ke arah Labora.

“Kamu ingat
kata-kata saya, kalau ada kupu-kupu masuk di rumaah saya atau saya batuk-batuk
maka saya akan kembali cari kamu dan saya akan tembak kamu,”ujar Zain menebar
ancaman.

Ancaman Zain
membuat nyali pemuda kampong itu kian ciut.  Mendengar
pengakuan Labora, hati Zain sedikit lega. Setidaknya kekalutan hati sudah
terobati. Hari itu juga Ia memutuskan kembali ke Desa Langara.

Perseteruan
dengan Labora bukan tanpa sebab. Bermula saat Zain mendapat laporan berupa
keluhan warga Lampeapi atas ulah Labora yang keraap menganggu warga  melaksanakan shalat tarawe di bulan ramadhan.
“Saat sedang sujud, Labora selalu memegang kemaluan para wanita, sehingga
membuat pelaksanaan shalat jadi kacau,”kata Zain.

Mendapat
laporan, Zain lalu memanggil Labora menghadap ke kantor polisi dan menanyakan
kebenaran pengakuan warga. Namun, Labora tidak sedikit pun menjawab pertanyaan
Zain. Sikap Labora membuat amarah Zain pecah dan menempeleng wajah lelaki itu. 

Usai kejadian
itu beberapa warga kemudian datang menemui Zain, mereka menceritakan tentang
kesaktian Labora yang memelihara 40 kuntil anak.

Cerita di atas
merupakan satu dari banyak kisah kehidupan tentang “dunia hitam” di wawonii. Memberi bukti,
bahwa, wawonii sejak lama telah diasosiasikan sebagai pulau gudangnya ilmu
hitam. Tak heran banyak orang  luar yang
enggan menginjakkan kaki ke wawonii karena takut terkena santet atau oleh warga
setempat disebut doti. Misalnya saja,
cerita doti yang bisa membuat kepala manusia menjadi lembek, atau kemaluan yang
tertempel di dinding.

Bagi sebagian
orang menganggap cerita mistis itu benar adanya, namun ada pula yang menganggap
cerita doti hanya mitos belaka, yang sengaja dihembuskan agar potensi alam
wawonii tidak dieksploitasi oleh orang luar. 

Zain sendiri
sebenarnya tak terlalu peduli dengan cerita mistis itu, bahkan, beberapa kali
Ia pernah berseteru dengan orang lokal yang terkenal berilmu tinggi.   Baginya, semua stigma itu hanya membuat
wawonii menjadi terisolir dan jauh dari sentuhan pembangunan. Namun, perseteruan
dengan Labora memberi pelajaran penting tentang hidup di negeri orang. Sebenarnya
tak hanya dengan Labora, Zain juga sempat berperkara dengan sejumlah orang wawonii yang
juga dikenal sakti. Namun semua bisa dia atasi. 

Ketika itu
Zain  masih berusia muda. Ia adalah
petugas kepolisian berpangkat sersan. Ia pertama kali menginjakkan kaki di
pulau berbentuk hati tahun 1979. Sebagai polisi Ia bertugas mengawasi wilayah
wawonii dan sekitarnya dan menetap  di
Desa Langara hingga kini . Saat Zain bertugas, camat wawonii dipimpin oleh
Melamba yang baru beberapa bulan bertugas 
menggantikan Arifuddin Djohansyah yang dipindah tugaskan sebagai
pembantu bupati di wilayah Lainea, Kabupaten Konawe Selatan (kini).

Pertama bertugas
di Langara, Zain  betul-betul merasakan
kesusahan hidup di pulau ini. Baginya Wawonii tak ubahnya sebagai daerah  ‘mati’, di mana rumah-rumah  warga masih bisa dihitung jari. Tak ada
sarana listrik apalagi sarana komunikasi. “Saat malam hari pulau ini sangat
gelap, kalau mau jalan malam saya selalu mengacungkan keris  ke depan, supaya kalau ada yang jahat bisa
langsung kena keris,”ujarnya sembari tertawa.

Zain mendapati
kosentrasi penduduk wawonii ketika itu terpecah-pecah dan lebih banyak berada
di wilayah Lampeapi. Walau sebenarnya Langara 
sudah menjadi pusat kecamatan ketika itu. Rumah-rumah di Langara masih
sebagian besar dihuni etnis Bajo, mereka hidup dan menetap di pinggir laut
dengan kondisi rumah sangat tradisonal, bahkan sebagian masih hidup di atas
perahu. Di Langara,  pedagang bugis hanya
ada dua orang yang khusus mengumpulkan hasil bumi. Para pedagang kerap
“menjual” nama Zain yang terkenal seantero pulau  wawonii saat berniaga ke pelosok.

Dalam realitas
kehidupan masa lalu hingga kini, warga wawonii  tidak menampik adanya ilmu
hitam atau dalam bahasa lokal disebut doti. Bahkan, sebagian warga bangga dengan status itu. Tak heran, doti  atau ilmu hitam
kerap menjadi bahan permainan anak-anak muda untuk saling mengetes  kesaktian, misalnya saat pesta adat atau
pesta perkawinan, biasanya dibarengi dengan pesta minum-minum tuak. Pada saat
itulah para pemuda saling memperlihatkan kelebihan, misalnya, menggit beling
botol/gelas, menolak racun, dll.