Diduga Menipu, Dua Anak Bupati Konut Dilapor ke Polisi

0
181
Ilustrasi. Foto : Ist.

KONUT, umrohmurah.info- Dua anak bupati Konawe Utara (Konut)
 dilaporkan ke polisi lantaran diduga melakukan penipuan dan
penggelapan.

Adalah Arifuddin yang melaporkan masalah tersebut.
Kedua terlapor masing-masing AS Ruslan dan Iswahyudin meminta uang
kepada korban untuk biaya operasional pemilihan ulang yang sedang
digugat di Mahkamah Konstitusi (MK) pada tahun 2011 kala itu.

Kasus ini berawal pada tahun 2011, AS Ruslan yang menjabat sebagai
Dinas PU menjanjikan paket proyek kepada salah seorang kontraktor
bernama Arifuddin dengan syarat menyerahkan dana sebesar Rp. 2,8 miliar.

“ Terlapor AS Ruslan dan Iswahyudin meminta uang kepada korban untuk
biaya operasional pemilihan ulang yang sedang digugat di Mahkamah
Konstitusi (MK) pada tahun 2011 kala itu. Saat itu, calon bupati Konawe
Utara adalah ayah mereka yakni Aswad Sulaiman, korban dijanjikan akan
diberi paket pekerjaan jika orangnya berhasil menjadi bupati,”
ungkapnya seperti dikutip dari Suarakendari.com (Member sindikasi berita umrohmurah.info).

Terbuai janji anak bupati, Arifuddin kemudian memberikan bantuan dana
secara tunai yang diberikan bertahap. Namun, setelah ayah terlapor
menjadi bupati, proyek yang dijanjikan tak kunjung direalisasikan.
Korban pun berusaha untuk menanyakan hal itu, Ruslan enggan bertemu.

BACA :  Peringati Hari AIDS Mahasiswa Kedokteran Bagi Bunga

“ Sehingga korban memilih melaporkan kasus itu ke polisi, karena ia sangat dirugikan,” jelasnya.

Menurut Dolfi, korban juga menyerahkan barang bukti berupa empat
lembar kwitansi pada polisi.” Penyidik telah melayangkan panggilan kedua
kepada terlapor dan jadwal pemeriksaannya besok, bila besok tidak
datang kita akan surati hingga tiga kali. Tetap mangkir, kami akan
jemput paksa terlapornya,” ujarnya.

Sementara dr. Sahriman, anak bupati Konawe Utara yang menjabat
sebagai direktur rumah sakit pemda setempat lebih duluan dilaporkan ke
polisi, karena menipu. Ia dilaporkan oleh Nursam dan Aris.

Mereka juga dijanjikan proyek pengadaan alat kesehatan pada bulan
Februari 2013 lalu, dengan syarat menyerahkan dana sebesar Rp. 300 juta
“kami telah melakukan upaya untuk menyelesaikan persoalan ini
sebaik-baiknya, namun nampaknya dia (dr. Sahriman, red) tidak pernah
menemui kami, bahkan dia ingkar terhadap surat perjanjian yang telah dia
tanda tangani sendiri.” Ungkap Aris.

Pihaknya lanjut Aris sudah berupaya menyelesaikan masalah ini melalui
surat perjanjian yang dibuat pada tanggal 27 April 2014 lalu dilengkapi
dengan materai dan dr. Sahriman, sanggup melunasinya secara bertahap.

BACA :  Wakatobi, Cagar Biosfer Dunia

“ Dari perjanjian yang di buat dia sanggup melakukan pembayaran
tersebut secara bertahap, namun sampai saat ini kami tidak menemui
kejelasan,” tukasnya. (KIKI/SK).