Derasnya Bisnis Perhotelan di Kendari

0
27

SULTRANEWS-Sejak tahun lima tahun silam para pengamat ekonomi telah memprediksi, jika bisnis hotel di Kota Kendari akan tumbuh subur, seiring maraknya bisnis pertambangan di daerah ini. Prediksi yang tak meleset, karena faktanya, hampir bersamaan hotel-hotel baru mulai bermunculan dengan berbagai type, merek,golongan hotel. Ini tandai dengan berdirinya sejumlah hotel elit di Kendari. Sebutlah, seperti Swissbell Hotel, Horison Hotel, Hotel Clarion dan  terakhir Same Hotel, hotel berbintang yang telah beroperasi kurang lebih tiga tahun.

Kondisi ini mengindikasikan membaiknya pertumbuhan ekonomi Kendari di era kepemimpina DR. Ir. H. Asrun MEng. Keseriusan para pengusaha hotel dibuktikan dengan keberanian menanamkan investasi mereka di daerah ini. Seperti diketahui hampir sebagian besar pengusaha hotel atau pemilik hotel melibatkan pihak perbankan atau investor pada saat pembangunan hotelnya, dan salah satu hal yang pasti diminta pihak perbankan maupun investor sebelum mereka melakukan pendanaan usaha hotel, adalah study kelayakan  atau feasibility study usaha hotel tersebut. Hal ini penting mengingat apabila ditinjau dari aspek finansial ternyata usaha tersebut tidak layak maka sangat mungkin tidak ada pihak perbankan maupun investor yang mau mengucurkan dananya.

Pada tahun 2013, menjadi tahun persaingan usaha hotel di Kota Kendari, bahkan persaingan  cukup ketat.

Berdasarkan hasil kajian strategis, prospek usaha hotel di Kendari menemukan fakta, bahwa,  rata – rata tingkat hunian kamar hotel di kota ini cukup tinggi yaitu diatas 70% per tahun. Profitabilitas usaha hotel dipandang sebagai sebuah prospek memenuhi kelayakan finansial usaha sehingga para  pengusaha hotel memutuskan untuk tetap berinvestasi.Para pebisnis juga telah melakukan kajian strategis terlebih dahulu  sehingga keputusan untuk berbisnis hotel tidak akan sia-sia dan kerugian besar dapat dihindari.

Tapi pengamat perhotelan di Kendari Hendra Soekarno, pernah berpendapat lain, bahwa, perkembangan bisnis hotel belum terlalu menjanjikan. Kondisi ini berbeda dengan kondisi yang ada di kota-kota besar lainnya.

“Dua atau tiga tahun yang lalu, bisnis hotel yang ada di Sultra masih menjanjikan, jumlahnya juga tidak terlalu banyak, saya belum punya data pastinya, kalau tidak salah dibawah angka 70, tapi beberapa tahun ini daerah kita dimasuki hotel-hotel yang punya franchise sendiri dan cukup benefit,” katanya.

BACA :  Kader Jadi Buronan Polisi, Partai Demokrat Sultra Meradang

Diakuinya, pertumbuhan hotel yang ada di Sultra sebagai salah satu perkembangan ekonomi, namun jika tidak diimbangi dengan sesuatu yang bisa mendatangkan tamu, maka pengusaha hotel dipastikan gulung tikar.

Hendra menuturkan, pembangunan hotel perlu dikoordinasikan dengan pihak pemerintah, sehingga tidak kian menjamur, sementara tidak ada wisata yang bisa diandalkan, kalau hanya pertambangan tidak menjadi penunjang bisnis perhotelan bisa bertahan lama.

“Saya ambil salah satu contoh, di Kota Makassar, ada Trans Studio yang menunjang dan beberapa tempat wisata lain yang menarik minat dan perhatian bagi tamu dari luar kota, jadi tidak heran jika akhir pekan, Kota Makasaar semakin ramai, sementara kalau di Sultra tidak ada yang bisa dijadikan tempat wisata yang benar-benar menarik perhatian tamu dari luar, yang menjadi kebanggaan hanya tambang,” tuturnya.

Diprediksikan, beberapa tahun ke depan pertumbuhan hotel yang ada di Sultra semakin berkembang, apalagi dengan hadirnya Hotel Clarion yang diperkirakan kamarnya berjumlah 258 kamar, tentu hadirnya hotel ini akan memberikan pengaruh bagi hotel-hotel yang lain.

“Saat ini saja jumlah kamar yang terisi masih sekitar 60 persen, kalau semakin banyak hotel, maka jumlah kamar yang terisi pasti semakin berkurang sehingga akan memberikan pengaruh terhadap daya saing hotel itu sendiri,” ujarnya.

Ia cukup bangga dengan banyaknya jumlah hotel yang ada saat ini, namun disisi lain ia juga merasa prihatin.

“Bangganya karena para investor memilih Sultra untuk menanamkan sahamnya dalam bentuk pembangunan hotel, sehingga beberapa hotel berbintang seperti Swis-Belhotel, Horison dan Clarion sudah ada di Kendari, prihatinnya karena kita tidak tahu langkah apa yang harus diambil setelah kehadiran hotel berbintang itu, sementara tidak ada tempat wisata yang cukup menarik perhatian, apalagi di Kota Kendari,” sesalnya.

Hendra hanya berharap agar pengusaha hotel bisa mempertimbangkan lagi untuk membangun hotel, bukannya ingin menutup kesempatan bagi pengusaha atau melakukan kiat-kiat tertentu agar hotel yang ada saat ini bisa tetap bertahan.

“Mungkin bagi pengusaha bisa melihat kembali harga yang ditawarkan, maksud saya harganya mungkin bisa lebih murah, listriknya bisa lebih irit dan kebutuhan akan karyawan juga tidak perlu terlalu banyak,” sarannya.

BACA :  Stadion Lakidende dan Riwayatmu Kini

Ia juga berharap kepada pemerintah agar tidak sembarang dan lebih memperhatikan lagi izin pembangunan yang diusulkan. “Jangan sampai izinnya ruko, tapi yang dibangun hotel, mungkin pemerintah bisa lebih berhati-hati dalam memberikan izin,” harapnya.

Kemudahan Berinvestasi

GELIAT investasi perhotelan di Kota Kendari kian menunjukkan peningkatan yang sangat pesat. Hal ini ditandai dengan pengajuan izin pembangunan sejumlah hotel baru oleh investor. Bahkan, untuk menarik investor menanamkan modalnya di sektor perhotelan ini, pemerintah Kota  Kendari  mengeluarkan paket kebijakan dengan memberi kemudahan bagi para investor yang akan menanamkan modalnya.

Pemerintah Nampak telah memikirkan secara matang dampak dari investasi ini, dimana ikut terbukanya lapangan pekerjaan baru. Terbukanya kran investasi perhotelan, misalnya, telah ikut menyeret membuka kesempatan pada tenaga kerja lokal, khususnya lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jurusan perhotelan dan tata boga.

Kendati dia memberikan kemudahan bagi investor untuk berinvestasi membangun hotel, namun bukan berarti para investor mengabaikan aturan-aturan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari. Secara tegas, Pemkot meminta kepada para investor untuk mentaati proses perizinan sesuai prosedur. “Saya minta proses melalui prosedur yang benar karena ketika tidak melalui proses prosedur yang benar, pasti saya hentikan pembangunannya tanpa memandang siapapun dia,” tegas Asrun, Walikota Kendari.

Dengan tersedianya hotel-hotel berbintang di Kota Kendari, akan menjadikan kota ini berpotensi menjadi tuan rumah untuk even-even besar baik tingkat nasional maupun internasional. “Sehingga Pendapatan Asli Daerah (PAD) juga ikut meningkat dan akan banyak tenaga kerja yang terserap khususnya bagi warga Kota Kendari,” pungkasnya.

Selain bisnis perhotelan, pemerintah juga membuka seluas-luasnya kran investasi untuk real estate. Sejak  tahun 2011 kawasan elit mulai bermunculan sebutlah kawasan Citra Land di kawasan Andonohu, demi memenuhi hasrat kaum borjuis, pengelola Citra Land membuka ratusan unit bangunan mewah lengkap dengan pusat perbelanjaan, demikian pula perumahan elit  Baruga Residance, Kemaraya Residance, Palm Mas dan sejumlah hunian mewah yang dilengkapi dengan waterboom. Untuk investasi bisnis Pembangunan kawasan-kawasan elit ini tidak lagi menunggu lama, seperti tahun tahun sebelumnya, namun hanya dalam hitungan bulan. SK