Cinta Perempuan Bajo

0
140

Pulau Wakatobi tak hanya keindahan alamnya yang menarik untuk dijelajahi. Ragam budayanya juga menariknya untuk disalami. Salah satu diantaranya adalah perkawinan langka antara perempuan bajo dengan seorang bule asal Amerika, Chris Majors yang sudah belasan tahun mencurahkan hidupnya pada kepentingan masyarakat Bajo dan konservasi lingkungan. Berikut reportase Yos Hasrul>>

Era berlari kecil di jembatan kayu Desa Sama Bahari. Tangan mungilnya memegang plastik kecil berisi cairan es, lalu disenyedotnya hingga ludes. Di belakang Era mengikut belasan anak-anak berkulit legam tak memakai baju. Mereka semua membaur dan seolah tak peduli teriknya mentari membakar kulit siang itu. Pandangan Era beralih ke bawah kolong rumah, dimana sekumpulan anak tengah mendayung sampan kecil. Ia membalas lambaian tangan ke anak-anak itu.

Kehadiran Era siang itu tampak berbeda dari kebanyakan anak suku Bajo. Rambutnya yang kuning dan kulitnya yang putih menjadi pemandangan kontras, diantara belasan anak-anak berkulit legam. Sayup-sayup terdengar tertawa dan berbicara dalam bahasa daerah bajo.

Era kecil memang terlahir dari kisah cinta ayahnya yang Amerika dan ibunya yang Bajo. Ayah Era bernama Chris Majors. Seorang antropolog berusia empat puluh tahun. Chris telah menghabiskan waktu lebih dari lima belas tahun di desa itu, hanya untuk mempelajari siklus kehidupan orang bajo. Sedang, Ibu Era bernama Ida, seorang perempuan Bajo yang taat pada aturan adatnya. Seperti umumnya masyarakat Bajo, Ida meyakini adanya Umbo Mandilao yaitu nenek moyang suku Bajo yang bermukim di laut dan senantiasa menjaga keberlangsungan hidup mereka.

Wakatobi, foto : tim ekspedisi zamrud khatulistiwa

Cerita ‘bule’ mempersunting suku bajo memang cerita langka, yang sangat sedikit ditemui. Chris sendiri tak menduga jika kehadirannya di kampung Bajo Sampela, Kecamatan Kaledupa Kabupaten Wakatobi berujung ke pelaminan. Hanya setahun menetap di SampelaChris langsung mempersunting Ida. Mahar yang dibawanya hanya dua juta rupiah, plus sebuah cincin emas tiga gram. Pernikahan itu disesuaikan dengan budaya setempat, dan dihadiri orang tua Chris. Saat itu Ida hanya bisa pasrah dengan lamaran Chris yang tiba-tiba.

Empat tahun menikah, Chris dan Ida dikarunia anak lelaki, yang kemudian diberi nama Era. Lazimnya kebanyakan bayi, Era juga sempat diberi sentuhan air laut, maksudnya agar anak bajo mencintai laut sebagai sumber kehidupan mereka. Semenjak lahir Era hanya bisa berbahasa Bajo. Ia tak mengerti bahasa Indonesia atapun bahasa Inggris, bahasa ayahnya.

Ini berbeda dengan Chris yang fasih berbahasa Indonesia, Bajo apalagi Inggeris. Sedang Ida yang dilahirkan di Sampela tiga puluh tahun lalu, tidak hanya menguasai bahasa Indonesia, tapi sedikit-sedikit mulai paham apa yang dimaksudkan suaminya dalam bahasa Inggris. Baginya Chris adalah tumpuan hidupnya, bahkan bila suaminya pergi meninggalkan daerahnya untuk menetap di negerinya Ia rela ikut. Ida telah delapan kali mengiyakan ajakan Chris untuk ke Perth Australia.

Chris mengaku keputusan menikahi wanita suku Bajo tidak lain bagian dari kecintaannya terhadap suku terasing tersebut. Baginya,sebagai ilmuwan yang bergelut dengan ilmu asal-usul manusia ini, suku Bajo adalah aset tak ternilai yang tak boleh terabaikan. Termasuk dalam upaya konservasi lingkungan, khususnya di kepulauan Wakatobi.

Saat ini Chris benar-benar mencurahkan hidupnya pada kepentingan masyarakat Bajo. Tak heran bila riset yang telah dilakukannya selama 10 tahun itu dihabiskannya dengan bergelut langsung pada masyarakat Bajo melalui penyuluhan, layanan medis hingga bantuan fasilitas hidup. Ia telah pula membangun sebuah gudang untuk menampung hasil tangkapan ikan milik warga Bajo.

Foto : tim ekspedisi zamrud khatulistiwa

Ia pun membentuk Yayasan Bajo Matilla. Harapannya dengan kehadiran lembaga yang memfokuskan pada penelitian suku Bajo dan berharap orang Bajo dapat memahami pemanfaatan sumber alam dengan baik, tanpa harus mengubah budaya asal mereka.

Di Sampela, kini Chris bersama keluarganya tinggal menumpang di rumah mertua, tepat di Desa Sama Bahari di pesisir Kaledupa. Bersama, ratusan rumah suku Bajo ukuran petak berdiri diatas bongkah karang atau apo yang sekaligus menjadi pondasi rumah. Di tempat itu semua aktivitas dilakukan mulai dari merapatkan sampan, mencuci, mandi bahkan buang hajat. Ia hidup layaknya orang Bajo yang mengandalkan hidup dari hasil laut.

Yang menjadi perhatian Chris adalah keyakinan suku Bajo akan keberadaan Umbo Mandilao di laut yang selalu menjaga keberlangsungan hidup mereka, sehingga suku Bajo berkeyakinan ikan-ikan di laut tidak akan habis walaupun mereka menangkapnya dengan bom ikan atau pengrusakan-pengrusakan lainnya. Umbu Mandilao akan selalu memperbanyak dan mengganti ikan-ikan yang mereka tangkap.*** (Yos Hasrul)