Potret Anak Lampu Merah

0
85
Ilustrasi pengamen. Foto : Istimewa.

“Kami hidup di bawah  traficlight ini… selalu untuk berhenti kemudian
berlalu dengan berhati-hati”. Ini salah satu bait lagu yang dinyanyikan
seorang anak bersuara sumbang.. 

Gerombolan anak berusia tujuh tahunan. Mengerumuni setiap kendaraan
yang mampir di simpang  jalan saat lampu merah menyala. Siang saat
sedang hujan kecil menyiram jalanan. Mereka menyodorkan tangan-tangan
kecil bercampur peluh dan air hujan. Mata-mata sayup berharap belas
kasih. Mereka menghampiri sebuah mobil, sebelum akhirnya berhamburan
pergi setelah   pemilik mobil marah besar.

Seorang pria menatap liar dari kejauhan. Menantap setiap gerak dan gerik anak-anak itu.
Seorang anak yang lain datang menyodorkan uang pada pemuda itu, dan
berlalu tanpa mengeluarkan satu kata pun. Ia membuang  bahasa yang hanya
dimengerti oleh mereka berdua. Pemuda itu beranjak pergi dan membawa
lembaran-lembaran uang.

Adakah dari cerita ini membuat hari-hari lebih baik? Haruskah masa
 depan anak-anak itu berlalu dijalanan? Sebuah masa depan tanpa
kejelasan. Tanpa belas kasih dan tanpa rasa.

BACA :  Korupsi Dana Bencana Alam, Dua Mantan Pejabat Kolaka Divonis 4 Tahun Penjara

Matahari kian condong ke barat, saat lampu merah kembali menyala,
beberapa  dari anak-anak itu telah bersiap. Kali ini dengan nyanyian
bersuara sumbang dihadiahkan pada pengguna jalan. Mereka beruntung. Dari
balik kaca lembaran uang seribuan diisodor seseorang bertangan mulus.
Perempuan  muda itu tersenyum, sungguh senyum yang kecut…..(Muhammad Hasrul).